Ponpes Dalpa

Raja Kusta dan Sultan yang Berkasih: Kisah Epik Baldwin IV & Shalahuddin al-Ayyubi dalam Lensa Islam

Epik Baldwin IV & Shalahuddin al-Ayyubi dalam Lensa Islam

Dua Pemuda di Atas Panggung Takdir

DALPAREDAKSI — Langit Yerusalem tahun 1174 M seolah menulis takdir besar dua tokoh dunia. Seorang remaja berusia 13 tahun, Baldwin IV, naik takhta sebagai Raja Kristen dengan wajah tertutup topeng perak karena penyakit kusta yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Dari timur, berdiri seorang pemimpin Muslim berusia 36 tahun, Yusuf bin Ayyub—yang kemudian dikenang sebagai Shalahuddin al-Ayyubi—sang penyatu Mesir dan Suriah di bawah panji Islam.

Mereka adalah dua sosok yang seakan dipertemukan sejarah untuk saling menguji kehormatan. Shalahuddin dikenal bukan hanya sebagai panglima besar, tetapi juga seorang Muslim yang menghidupkan tasawuf. Ia sering berkata bahwa perang hanyalah pilihan terakhir, dan kemenangan sejati adalah ketika hati manusia dimenangkan. Baldwin, meski seorang raja Kristen, dihormati oleh kaum Muslim karena ia tidak pernah merendahkan simbol Islam.

Pertemuan dua tokoh besar ini adalah cermin betapa sejarah Islam dan Perang Salib bukan hanya kisah darah, melainkan juga tentang adab, kebijaksanaan, dan kemuliaan musuh.

Babak I: Montgisard – Ketika Darah dan Doa Bersilangan

November 1177 M. Shalahuddin memimpin 26.000 pasukan Islam, termasuk kavaleri elit Mamluk dan pejuang Kurdi. Tujuannya jelas: merebut kembali Al-Quds (Yerusalem) dari tangan pasukan Salib. Di sisi lain, Baldwin IV yang baru berusia 16 tahun hanya memiliki 600 ksatria. Tubuhnya rapuh, tetapi semangatnya menyala seperti api padang pasir.

Sebelum pertempuran, Shalahuddin berhenti di Ascalon untuk melaksanakan salat Jumat. Menurut sejarawan Ibn al-Athir dalam Al-Kamil fi at-Tarikh, sang Sultan berdoa dengan penuh khusyuk:

“Ya Allah, jika kemenangan ini untuk-Mu, maka mudahkanlah jalan kami. Jika tidak, cukupkanlah umur kami dalam iman.”

Namun, takdir berkata lain. Baldwin yang seharusnya bertahan di benteng justru menyerang dengan taktik mengejutkan. Di Montgisard, pasukan Salib berhasil memukul mundur barisan Islam. Shalahuddin hampir kehilangan nyawa, hingga terpaksa melarikan diri dengan menunggang unta.

Meski kalah, Shalahuddin tidak hancur. Ia menulis kepada Khalifah Abbasiyah: “Kami kalah karena sombong. Pemuda itu (Baldwin) mengajarkan kami arti tawakkal.” Dari sini lahirlah pelajaran: bahwa bahkan seorang raja sakit pun bisa mengajarkan arti keikhlasan dan strategi.

Babak II: Gencatan Senjata – Al-Quran dan Injil Berbisik Damai

Tahun 1180 M, keadaan berubah. Baldwin yang kini berusia 19 tahun semakin lumpuh, sementara Shalahuddin sibuk menghadapi pemberontakan di Aleppo. Keduanya akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata dua tahun—keputusan yang ditentang keras oleh pihak ekstremis di kedua kubu.

Tetapi inilah momen di mana sejarah Islam mencatat wajah humanis perang. Shalahuddin mengirim hadiah berupa jam matahari hasil karya ilmuwan Muslim, disertai pesan: “Waktu terus berjalan, tetapi kehormatan abadi.” Baldwin membalas dengan memberi izin para penghafal Al-Qur’an melintasi wilayah Kristen dengan aman.

Bahkan, menurut catatan Dzahabi dalam Tarikh al-Islam, Shalahuddin memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang Baldwin secara langsung. “Ia adalah raja yang sakit, tetapi jiwanya sehat. Menyerangnya di saat lemah bukanlah kesatriaan,” katanya.

Lebih dari itu, seorang tabib Muslim bernama Syekh Abdullah al-Taymi bahkan dikirim ke Yerusalem untuk mengobati Baldwin. Para bangsawan Kristen heran, tetapi Baldwin menjawab dengan kalimat yang agung: “Ilmu adalah cahaya Tuhan, dan cahaya tidak mengenal agama.”

Baca juga:Penyambutan Putra Mahkota Sayyidul Walid Abah Guru, Al-Ustadz Zainal Abidin Lc.

Babak III: Kematian Raja & Air Mata Sang Mujahid

16 Maret 1185 M. Raja Baldwin IV menghembuskan napas terakhir di usia 24 tahun. Dalam detik-detik terakhir, ia meminta pengawalnya yang seorang mantan tawanan Muslim untuk membacakan Surah Yasin. “Aku ingin mendengar ayat-ayat yang menenangkan sahabatku di seberang,” ujarnya.

Ketika kabar itu sampai ke Damaskus, Shalahuddin terdiam lama. Ia lalu melantunkan syair Arab:

“Musuh yang mulia adalah cermin bagi jiwamu,
Kehilangannya membuat pertempuran kehilangan arti.”

Shalahuddin bahkan mengirim karangan bunga ke pemakaman Baldwin—tindakan yang diabadikan dalam karya Ibn Katsir al-Bidayah wa an-Nihayah. Dua tahun kemudian, ia merebut Yerusalem. Namun berbeda dengan pembantaian Pasukan Salib tahun 1099, Shalahuddin menolak balas dendam. Ia berkata: “Yerusalem adalah kota suci bagi semua agama.”

Cahaya Abadi dari Yerusalem

Kisah Baldwin IV dan Shalahuddin al-Ayyubi adalah permata sejarah Islam yang jarang dibicarakan. Dari mereka, kita belajar bahwa:

  1. Adab lebih mulia daripada amarah. Shalahuddin meneladani sabda Nabi ﷺ agar tidak membunuh wanita, anak-anak, atau orang sakit.
  2. Ilmu di atas fanatisme. Baldwin menerima tabib Muslim karena yakin ilmu adalah cahaya Tuhan.
  3. Kemenangan sejati adalah menjaga martabat manusia. Saat merebut Yerusalem, Shalahuddin menunjukkan bahwa jihad bukanlah balas dendam, melainkan menegakkan keadilan.

Di tengah dunia yang sering terpecah oleh agama dan politik, kisah dua tokoh ini mengingatkan kita bahwa musuh sejati bukanlah orang berbeda iman, tetapi kesombongan yang membutakan hati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *